
API DAN ASAP DAN API
MUNGKIN ini nggak sesulit
menjawab soal asal muasal ayam dan telor. Tapi benarkah menemukan
sumber asap, which is selalu ditudingkan pada api, bakal semudah
membuang sampah sembarangan? Saya pikir, ungkapan tak ada asap jika tak
ada api, masih belum tuntas. Kalo bener tak ada asap maka tak ada api,
maka tak ada api jika tak ada pemicunya. Dan seperti kejahatan, pemicu
tak bakal memercikkan api jika tak ada niat dan kesempatan. Sialan.
Kenapa saya jadi ikut-ikutan tagline sebuah tayangan kriminal di teve
ya? Anyways, mungkin dosa terbesar dunia, ada pada kemampuannya
menyihir massa. Bukan cuma melenakan, tapi juga bisa menciptakan
follower, yang dengan suka rela menyerahkan segenap jiwa dan diri
mereka buat jadi penghamba, budak nafsu, dan hedonist sejati. Yang
bakal menghalalkan segala cara untuk memenuhi rasa kepenasaran. Pun
demi menuntaskan kepuasan tak berujung yang lorongnya terus berdenyut.
Wah wah, saya tak mau munafik. Terkadang, saya pun melakukan
kegiatan-kegiatan nista itu. Ikut tersihir, dan membiarkan diri
terlarut dalam kenikmatan. Walau justifikasinya, saya tengah belajar di
scene itu. Menjajaki berbagai kemungkinan yang bisa saya susupi celah
dan ceruknya. Untuk kemudian membalik keadaan, jadi penguasa yang ganti
menyihir mereka. Hahaha. Boleh jadi sudah terjadi keblunderan di sini.
Tak jelas lagi siapa pendosa dan siapa yang membuat mereka berdosa. Dan
sialnya, yang beginian bakal terus terjadi. Ekonomi terus menghukum
siapa pun. Bahwa selama ada demand, di sana supplier bisa hidup
bergelimang kemewahan. Salah siapa? Ah, tampaknya ini saat yang tepat
buat kita terbakar bersama di neraka!
Keep on the right trax,
hagi hagoromo
hagi@mtvtrax.com
BOX
trax magazine
BEBERAPA waktu lalu, Adhitya Mulya, the author of Jomblo dan Gege Mencari Cinta, bersama istri tercintanya, Ninit Yunita, the author of Kok Putusin Gue dan Test Pack,
menyambangi trax. Kedatangan mereka melintas-benua --saat ini Adhit
masih terikat kontrak dengan satu perusahaan yang berkantor di Abidjan,
Ivory Coast, West Africa-- adalah untuk mengikuti proses syuting Jomblo
[yes, the movie], besutan Hanung Bramantyo. No, no, saya sedang tidak
ingin mempromosikan film yang skenarionya ditulis our beloved Senior
Editor si gilafilm Salman Aristo itu. Tapi seperti yang pernah dikabari
Ninit sebelumnya, mereka mengoleh-olehi saya dengan... majalah TRAX.
Yap, namanya sama, terbitan Afrika, berbahasa Italia. Corenya juga
nggak jauh beda: musik. Argh! Kenapa harus sama ya? Hell yeah, nama
boleh aja serupa, tapi toh, isinya nggak harus begitu. Dan ide boleh
aja mirip, tapi bukan berarti kami mencontek mereka, atau sebaliknya
kan? Well, keliatannya saya nggak bisa menolak ungkapan nuthin' new
under d'sun. Argh! <
