hagi's posts with tag: kontemplasi mendalam
Apa yang sedang kamu lakukan? Saat ini, gw sedang berlatih buat berhenti menggunakan logika. Mengerem rasio. Tidak berpikir. Kenapa? Gw lagi pengin menajamkan hal lain. Sesuatu yang bukan di ranah logika, rasio, pikiran. Buat apa? Mengaktifkan sisi-sisi lain dari elemen kehidupan gw. Membuat gw mendalami, memahami, dan mensyukuri semua yang sudah dipinjamkan ke gw. Bagaimana caranya? Nah, ini menarik. Beberapa waktu lalu gw menemukan pertanyaan itu. Sampai titik mana kita harus menghentikan logika dan rasio kita? Uhm, ini sebenarnya buat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mukjizat, keajaiban, miracle.. Gw belum nemu caranya. Dan ehm, ini mungkin karena gw terlalu banyak berpikir juga. Hahaha. Apa yang bikin kamu jadi seperti itu? Hmmm, sebenernya udah lama gw nggak terlalu percaya sama logika dan rasio. Karena mereka terbatas. Amat sangat terbatas. Dan ketika menemukan sesuatu di luar logika dan rasio kita, apa yang mesti dilakukan? Bagaimana kita menyikapinya? Menihilkan itu, jelas tidak mungkin. Faktanya, sesuatu itu ada. Dan jika dia belum ada di logika dan rasio kita, artinya, pikiran kita lah yang mesti diupgrade buat menangkap sesuatu itu. Ini rumit atau sederhana? Bisa jadi rumit. Tapi mungkin juga sederhana. Ah, kamu bikin pusing aja.. Makanya, berhentilah berpikir..
 | maksi | Jun 25, '08 2:19 AM for everyone |
Apa yang terbayang, saat kamu menyantap makan siangmu? Entah. Tapi gw kepikiran sama petani, yang nanem padi dan sayur mayur yang gw makan. Peternak, yang ternaknya gw santap. Pedagang makanan, yang masakannya sedang gw lahap. Orang-orang yang kelaparan. Orang-orang yang suka menyia-nyiakan makanan mereka. Orang-orang yang berusaha susah payah buat dapet makan. Anak istri gw. Orangtua gw. Keluarga. Temen-temen. Kamu semua. Dan yang pasti, Allah swt. Yang udah ngasih banyak nikmat. Yang membuat gw lapar dan yang mengenyangkan gw. Yang membuat gw masih bisa makan, masih bisa hidup, dan masih bisa bersyukur. Allhamdulillahilladzi ath’amana wasaqana waja’alana minal muslimiin..
 | BALAS | Jun 6, '08 2:19 AM for everyone |
Boleh jadi, udah sering denger cerita ini. Dan tadi, pas khutbah Jum’at, hikayat ini dikisahkan kembali.. “Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis buta yang belum diberi kesempatan bersentuhan dengan Islam dan sangat suka mencaci maki Nabi Muhammad, orang yang belum pernah ditemuinya, kepada siapapun yang melintas di hadapannya. Suatu hari sampailah cerita tentang caci maki pengemis buta itu ke telinga Nabi Muhammad. Esok paginya, laki-laki mulia itu pergi dari rumah sambil membawa semangkuk bubur gandum. Sejak saat itu hingga sakit dan wafatnya Nabi tak pernah absen satu hari pun pergi dari rumah dengan semangkuk bubur gandum. Setelah Muhammad saw wafat, sahabat yang menjadi khalifah pertama, Abu Bakar, datang berkunjung menemui Aisyah, istri Nabi yang juga putri dari Abu Bakar. Abu Bakar bertanya “Wahai putriku, sunnah apakah yang dilakukan Nabi Muhammad yang belum aku jalankan?” Aisyah menjawab “Wahai ayahku, setiap pagi beliau pergi ke sudut pasar Madinah sambil membawa semangkuk bubur gandum dan menyuapi seorang pengemis buta.” Keesokan paginya berangkatlah Abu Bakar dengan semangkuk bubur gandum menuju pasar Madinah. Setelah ditemukannya pengemis buta itu maka Abu Bakar berjongkok dan mulai menyuapi si pengemis. Baru sendok pertama, pengemis itu tersadar dan memegang tangan Abu Bakar sambil berkata “Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku.” Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa menyuapimu.” Sang pengemis berkata lagi “Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku karena orang itu selalu menghaluskan lebih dulu bubur gandum dengan sabar dan meniup hingga agak dingin sebelum menyuapiku.” Abu Bakar berlinang airmata begitu mendengar kata-kata si pengemis lalu “Orang yang biasa menyuapimu telah wafat dan aku ingin meneruskan semua perilaku yang dicontohkannya.” Sang pengemis bertanya “Siapakah gerangan orang yang telah dengan begitu sabar dan telaten kepadaku yang hanya pengemis ini?” Abu Bakar menjawab “Namanya Muhammad, seorang Rasul.” Dengan suara serak penuh tangis sang pengemis berkata “Sungguh aku telah mencaci makinya selama ini.” [disadur dari sini] Ah, andai saja, Hikayat Nabi ini lebih sering diperdengarkan dan dihikmati oleh kaum Nabi Muhammad yang penuh amarah, ringan tangan, dan gemar merusak itu, tentu kejadiannya nggak bakal seperti sekarang ini. Sejujurnya, jauh dalam lubuk hati, gw nggak sepakat juga kalo kelompok mereka dibubarkan, dibekukan, atau dimatikan. Hanya saja, mereka mesti lebih sering dikenalkan dengan kasih sayang. Kasih sayang yang merupakan akhlak mulia Nabi Muhammad, yang kata mereka, selalu jadi panutan dan agamanya wajib selalu mereka bela itu. Bahkan kepada musuh-musuh Nabi sekalipun. Dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan: “Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...dst” [QS 33:21]. Dan bukankah perintah Allah “..dan nasehat-menasehati [agar] menepati kebenaran, dan nasehat-menasehati [agar] menepati kesabaran..” [QS 103:3]. Atau rupanya, ada yang keliru menerjemahkan ayat itu menjadi: “..dan saling pukul-memukulilah kalian agar menepati kebenaran, dan saling hancur dan rusaklah kalian agar menepati kesabaran..” ‘audzubillah mindzalik..
 | LAWAN | Jun 2, '08 1:42 AM for everyone |
Kalo gw bilang sih, kebrutalan dan anarkisme mesti dilawan. Bukan, bukan cuma sekadar nunggu aparat hukum kita bergerak. Karena udah keseringan, dan nggak juga ada buktinya. Anarkisme dan brutalisme masih terulang terus. Jadi, kalo liat di depan mata, ya bagusnya langsung hajar aja. Hmm, tapi, apakah gw berani? Dulu waktu kantor gw mereka hancurkan, gw juga cuma bisa liat doang. Mungkin, karena memang nggak ada satupun temen gw yang mereka keroyok kali ya. Kecuali ada satu petugas reserse yang dipukuli karena hendak menangkap provokator yang pertama kali nimpuk batu. Sementara aparat lain, memilih buat berlindung dari hujan batu.. Entah. Kalo ada kejadian lagi di depan mata gw, semoga gw dikuatkan buat melawan. Bukan, bukan karena ingin bertindak bodoh. Tapi, iblis memang harus dilawan. Dan ya, cuma ada satu kata: LAWAN!
Tiap saat, laut mengalami pasang surut. Gejala alam ini, dipengaruhi gravitasi bulan. Juga revolusi bulan terhadap bumi. Pun gaya sentrifugal dan sentripetal bumi. Kalo di bagian ini pasang, berarti di bagian lain kemungkinan sedang surut. Vice versa. Ini siklus. Roda yang terus berputar. Naik dan turun. Kadang di bawah. Kadang di bawaaaaaah sekali.. J Kalo ketemu tanjakan, ya ingatlah. Karena sebentar lagi, bakal ketemu turunan. Kalo ketemu turunan, ya elinglah. Di depan sana masih ada tanjakan. Kalo lagi dapet senang, inget waktu sedih. Kalo lagi dapet susah, bersyukur karena masih disayang. Kondisi-kondisi kayak gini, cuma sementara. Ini karena kita hidup, bergerak, berdinamika, bersiklus. Dan biar nggak masuk kaum yang merugi, Gunakanlah akal dan hati kita buat berpikir jernih. Juga bersyukur jernih. Karena di ujung jalan sana nanti, Yang beruntung adalah yang bisa menghikmati perjalanan ini.. Selamat berkontemplasi.
Kalo tidak mesti memikirkan siapa-siapa dan tidak harus membela siapa-siapa, rasanya, gw terima-terima aja dengan kenaikan BBM. Hmm, nanti dulu. Tulisan ini bukan untuk menyerang siapa-siapa. Juga bukan buat menyinggung siapa-siapa. Ini sekadar suara hati gw. Yang mau gw share di sini. Menurut gw, berapapun kenaikan BBM, gw mah terima aja. Apapun alasannya, selalu ada penjelasan di belakang itu. Itu artinya, gw mesti lebih hemat lagi. Kerja lebih keras dan cerdas lagi. Kian berpikir, apa yang bisa gw lakukan di situasi-situasi sempit ini. Apa yang bisa gw perbuat buat menolong sesama. Terutama buat yang amat membutuhkan, di sekitar gw. Menurut gw, Allah nggak semata-mata membuat kondisi yang kayak gini. Melainkan agar kita berpikir dan menemukan solusi terbaik di antara pilihan yang buruk. Karena di balik semua ini selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Dan yang utama adalah bagaimana mensyukuri segala nikmat yang masih bisa kita peroleh di setiap tarikan nafas kita sampai detik ini..
 | V & M | May 27, '08 12:50 AM for everyone |
buat tumbuh sehat, tubuh butuh vitamin dan mineral [V & M]. V & M, menyediakan banyak unsur yang dibutuhkan tubuh untuk mengganti sel yang rusak dan buat bertumbuhkembang. V & M juga membantu kita mengusir radikal bebas. suatu bahan yang membawa unsur penghambat pertumbuhan, dan bisa membikin kita menderita penyakit degeneratif. V & M, ada di sekitar kita. mereka tidak diproduksi sendiri dari tubuh. dan kita mesti mencari serta mengonsumsinya. pilah-pilih dan mengonsumsi V & M, merupakan tindakan yang bijaksana. begitu juga dengan kegiatan menghindari radikal bebas. tapi sayangnya, masih banyak dari kita yang nggak memahami itu. ngerti, tapi nggak melakukannya. udah tau jelek buat tubuh, tapi masih diembat juga. udah tau bagus buat badan, tapi masih diabaikan aja. kan, mestinya, ambil yang bagus, dan buang yang jelek. atau, perbarui yang bagus, dan hindari yang jelek.. semoga tubuh kita bisa tetep sehat dan bugar..
 | bedah | May 20, '08 11:04 PM for everyone |
Bangsa ini, dulunya, dikenal sebagai masyarakat yang gemar tolong menolong. Jauh sebelum Bedah Rumah dipopulerkan Helmy Yahya, mendiang bapak mertua gw dan tetangga-tetangganya, sudah sering bahu membahu membenahi rumah warga yang kondisinya sudah tak layak huni lagi. Lewat musyawarah RT atau RW mereka menentukan rumah warga yang mana yang mesti diprioritaskan buat direnovasi. Dananya didapat dari swadaya masyarakat. Bukan, bukan dari hasil minta sumbangan dengan memblokir sebagian jalan. Tapi bener-bener dari iuran warga yang besarnya tidak ditentukan. Rumah mertua gw itu bukan tergolong kampung banget. Sub urban lah. Pinggiran kota, di selatan Bandung. Buat kerukunan warga, waktu itu, masih boleh diacungi jempol. Dan ini, pasti bukan hanya terjadi di situ saja. Di banyak tempat di negeri ini, pasti kesadaran warga macam itu masih terjaga dengan baik. Tapi tampaknya, sifat asli bangsa yang seperti ini sudah banyak tergerus perubahan jaman. Lihat saja sekeliling kita. Ada banyak hal yang butuh kepedulian warga tapi nyatanya tidak tersentuh sama sekali. Sebut saja misalnya, soal jalan. Di sekitar kita ada banyak kondisi jalan yang sudah rusak tapi tak juga diperbaiki. Penyebabnya bisa macam-macam. Saluran drainase yang buruk [atau bahkan tidak ada sama sekali], tonase kendaraan yang melewati tak terkontol, pun dengan bahan baku [aspal, batu, dll] yang kurang memenuhi syarat. Warga dan pengguna jalan, menganggap itu tanggungjawab pemerintah [dalam ini Dinas Pekerjaan Umum]. Bukan cuma itu. Kita semua sudah sering dengar soal kondisi sekolah yang buruk. Bangunannya, maksud gw. Beberapa waktu lalu, gw mendengar di radio, di DKI Jakarta ini aja, ada 430 unit SD dan SMP yang memerlukan renovasi. Sementara, dana APBD hanya mampu memperbaiki 20 unit saja. Wah, sisanya masih banyak tuh.. Menurut gw, adalah tanggungjawab warga sekitar buat menjaga dan memelihara lingkungannya. Ya, jangan sampe kejadian warga yang meninggal karena gizi buruk/kelaparan di Makassar waktu itu terulang lagi lah. Dan yak, ini waktunya diskusi..
 | bangkit | May 20, '08 11:01 PM for everyone |
Nonton 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional, tadi malam? Digelar di Gelora Bung Karno, dan disiarkan di seluruh teve swasta nasional. Melibatkan puluhan ribu orang, dari mulai tentara, seniman, anak sekolah, dll. Gw nggak nonton sampe selesai. Tapi, boleh dibilang, ini bisa jadi kerinduan kita sama acara-acara sejenis. Dulu, waktu jaman gw kecil, rasanya acara macam itu lumayan banyak. Sekarang sepertinya udah jarang ya. Kumpulan orang sebanyak itu dan semeriah itu biasanya cuma ada di pertandingan sepakbola, atau pas Uber & Thomas Cup kemarin.. Atau, bisa juga pas ada tabligh akbar. Atau, demonstrasi turun ke jalan. Atau, ulangtahun partai. Hahaha.. Entah ya. Meski sedikit, dan agak semu, Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional ini cukup menyemangati gw. Buat berpikir lebih dalam lagi. Berbicara lebih efektif dan efisien lagi. Juga berbuat lebih banyak lagi buat bangsa dan negara ini. Kita bisa kok, bangkit dari segala keterpurukan ini. Selama kita semua mau memperbaiki diri. Membenahi iman kita dan memperbanyak amal sholeh. Juga saling nasehat menasehati dalam kesabaran dan kebenaran. Bangkit?
 | makan | Apr 22, '08 10:58 PM for everyone |
beberapa dari kita, acap merasa bingung, mau makan di mana siang ini. hehehe, segitunya ya. karena mungkin bosen, atau selera lidah tengah rindu mengecap rasa-rasa baru.. yeah, jadi inget sebuah gurauan. katanya, kalo orang miskin, sering bingung, mau makan apa hari ini. sementara, kalo orang kaya, bingungnya, mau makan siapa hari ini. hmmm, gimana kalo sekarang, buat yang berkecukupan, pertanyaannya diubah. jadi: mau ngasi makan siapa ya hari ini?
Iya, ini from hero to zero, Bukan sebaliknya. Sebagai manusia, kita mesti menerima kenyataan. Bahwa kita punya banyak sekali keterbatasan. Fisik, misalnya. ada saat fisik kita mencapai titik optimumnya. Paling prima. Pol abis. Bisa ini itu. Bisa anu inu. Fisik paling produktif. Lalu abis itu, kita mesti tunduk pada hukum alam. Sunatullah. Bahwa gravitasi menarik tubuh kita. Usia memakan kebugaran kita. Pikun menjajah otak kita. Parkinson men-tremor-kan otot kita. Lalu, bagaimana kita berdamai dengan post power syndrome? Terutama saat hasrat kuat tenaga kurang.. Wah, bukan, ini bukan tentang impotensi. Tapi soal mengatasi dan menyikapi penurunan ritme tubuh, pikiran, dan emosi kita. Sepertinya, masih banyak yang nggak mudah menerima kenyataan. Dulu kuat dugem, sekarang cepet loyo. Dulu jagoan naik gunung, sekarang mudah lelah. Dulu sering begadang, sekarang bengek. Ya sudah lah. Zaman memang menggerus kita. Siapkan kafan-mu. Pesan tanah buat rumah masa depan. Dan tunggulah saatnya tiba.
 | kalah | Mar 24, '08 4:04 AM for everyone |
gw kalah. sama diri gw sendiri. kekalahan yang semestinya tak terjadi. dan mesti segera diperbaiki. hanya saja, merevisi tak semudah mengedipkan mata. semboyan mencegah lebih baik daripada mengobati, mesti dipatok lagi. refleks terhadap rem, mesti dipertajam lagi. segera. segera. dan gw tak punya kata lagi.
cara orang belajar, beda-beda. mereka punya teknik sendiri, saat menyerap sesuatu. pun begitu dengan daya hisapnya. juga demikian dengan kapasitas tampungnya. gw tipe yang emoh mentok. kalo belum kejedot dan berdarah, gw masih terus maju. errrrr, actually, bukan cuma maju sih yang gw lakukan. tapi gerak terus menerus. atau diam. tapi menyusun siasat. saat ini, gw baru aja kejedot. dan berdarah-darah. ini karena gw ceroboh melempar bumerang. yang akhirnya, menghajar jidat sendiri. parah. gw kan kejedot bukan cuma sekali ini aja. tapi kenapa jadi berulang lagi? bukan cuma lagi. tapi lagi, lagi, lagi, dan lagi.. hmmm, gw jadi curiga. tampaknya manusia itu sering lebih bodoh daripada keledai ya. terperosok terus ke lubang yang itu-itu aja.. menyesal, tentu saja. tapi, apa gunanya? jadi sekarang gimana? gw aja masih belum punya jawaban tentang ini. cuma satu kepengin sih. dan mesti diniatin penuh. Insya Allah gw bisa. dan gw meyakini itu, sepenuhnya..
 | sungkur | Mar 18, '08 5:25 AM for everyone |
tersungkur itu nggak enak. apalagi, kalo tertimpa tangga. apalagi, kalo nyebur ke lumpur. apalagi, kalo kena tai kebo. tapi tersungkur, selalu ada penyebabnya. ada pemicu, dan ada faktor pendorongnya. dan semua itu, selalu ada makna di belakangnya. makna, bukan sesuatu yang relatif mudah ditangkap. ia bukan mesti dicari, melainkan ditemukan. lalu kemudian dicerna, dan diaplikasikan hikmahnya. tersungkur memang nggak enak. tapi bersyukurlah, jika tersungkur membuatmu jadi belajar. belajar buat nggak tersungkur lagi di kemudian hari. dan kalaupun harus terulang, kau tau bagaimana caranya bangkit. merapikan lagi pakaianmu. dan kemudian berjalan lagi.
beberapa waktu ini, gw belajar tentang ketiadaan diri. latihan ini bisa bikin gw nggak merasa ada, di mana pun. gw absen. saya tidak ada. ini kebalikan dari paham eksistensialisme. suatu keyakinan yang percaya bahwa dirinya ada. selalu ada. dan selalu punya arti terhadap sesuatu. belajar ketidak-eksisan, membikin gw meredam gengsi. gw percaya, bahwa tanpa gw pun, dunia ini bakal terus menggasing. hidup tetap berlangsung. dan semua akan baik-baik saja. absolutely without me. ini seperti sebentuk pemberontakan. dan memang, tidak menonjolkan diri itu bukan pekerjaan mudah. apalagi, belakangan, arus narsisme kian menggejala. tapi seperti yang gw sering bilang, yang mesti dilawan dan ditaklukkan itu, adalah selalu diri sendiri. uhm, jangan kuatir. gw nggak secara ekstrim mengaplikasikan ini. karena, bisa jadi yang kayak gini malah membuat gw mangkir dari segala tanggungjawab. bikin gw jadi makin nggak pede, dan meninggalkan kepedulian sosial gw. tapi nggak. ini cuma sekadar buat bikin gw lebih mawas diri. biar gw lebih kerap introspeksi, dan lebih membuka diri terhadap koreksi. hahaha. ini nggak ada hubungannya dengan ke-invisible-an gw di beberapa tempat. meski, memang pembelajaran gw tentang ini, dipicu juga dengan status itu. bahwa ada tapi tiada, atau sebaliknya, itu menarik, sekaligus menggoda. hmmm, boleh jadi, ini cuma satu mekanisme dalam diri gw aja. saat menjenuh terhadap sesuatu, gw langsung mengubah diri, lalu menjauhinya. dan penjelajahan dari titik-titik ekstrim dalam rentang gw, adalah hal yang amat mengasikkan. wah wah, ternyata, gw bukan tidak ada ya. tetapi, sedang asik masyuk. di sini, di dalam diri gw. berperang dan berdamai. dengan diri sendiri.
 | berat | Feb 28, '08 1:23 AM for everyone |
tadi malem, setelah denyut dan lak bobo, gw dan yeni bicara-bicara.. pembicaraan yang dulu kerap kami lakukan, saat kemping atau sedang berada di alam bebas.. seneng, karena udah lama nggak ngobrol seperti itu. lalu obrolan berganti topik. seperti yang sudah-sudah, kami membahas, apa yang mesti dilakukan, kalo salah satu di antara kami duluan meninggal dunia.. antara pulang ke bandung, menikah lagi, atau, terus melajang.. juga, bagaimana merawat dan membesarkan denyut dan lak.. pembicaraan itu obrolan yang lepas. yang kami tau, jika saatnya tiba nanti, pasti tak akan semudah membicarakannya sekarang.. yeah, masing-masing kita memang tidak sepenuhnya memiliki. gw bukan milik yeni, pun yeni bukan milik gw. begitu juga dengan denyut dan lak, vice versa. jika waktunya datang, kita harus ikhlas melepas kepergian siapapun.. mungkin gw duluan, atau dia duluan, atau denyut, atau lak duluan.. mungkin gw tinggal sendiri, atau yeni, atau denyut, atau lak yang tinggal sendiri.. tapi hari itu pasti datang.. bicara soal rela melepas, gw lalu bertanya pada yeni, “lebih berat mana, ditinggal mati pasangan hidup/orang yang dicintai, atau kehilangan anggota tubuh [misalnya tangan, kaki, pengelihatan, dsb]?” kami punya jawaban tentang itu. tapi, bolehkah kalian ikut menjawabnya juga? lebih berat mana?
 | takut | Feb 27, '08 5:17 AM for everyone |
Takut, berasal dari perasaan tidak aman. Perasaan tidak aman, memicu ketidaknyamanan. Sumber awalnya, adalah ketidakpercayaan. Tidak percaya, karena merasa miskin. Tak punya pegangan dan tempat berlindung. Tak ada jaminan yang bisa membuat diri yakin. Yakin bahwa bisa melewati apapun, dan bisa selamat sampai di tujuan. Gimana caranya menghandel ketakutan? Jawabannya cuma satu: percayalah. Bagaimana bisa percaya dan yakin? Nggak ada cara lain, kecuali ikhlas. Oke, lalu gimana supaya bisa ikhlas? Jangan pernah terikat sama apapun di dunia ini, kecuali satu: Sang Maha Kuasa. Bahwa Dia sudah mengatur semuanya. Dia telah menentukan yang baik, bagi hamba-Nya yang menginginkan kebaikan. Ah ya, ternyata, memang semuanya kembali ke kita. Mana yang mau kamu pilih? Semoga kita semua termasuk kaum yang bertaqwa hanya kepada-Nya.
mencabut duri dalam daging ini, agak sulit. tampaknya, dia telah mengurat mengakar, sehingga sukar dilepaskan. ujungnya, sepertinya, sudah kait mengait di dalam sana. sehingga jika ditarik, pasti bakal mengoyak jaringan otot di sekitarnya. memang, salah gw juga. mestinya, sejak awal dulu, pas baru pertama kali kemasukan, langsung ditangani segera. toh udah tau rasanya tertusuk dan paham sekali pada akibatnya kan? tapi inilah, buah dari keseringan menunda dan menganggap remeh. kalo udah gini, nggak ada lagi yang bisa dirutuki. nah, sekarang, coba amati, dan pikirkan, bagaimana cara mengeluarkannya. solusi tercepat dan terefisien adalah: operasi. yak, diangkat saja. lalu diamankan, sehingga nanti nggak akan melukai daging lain.. tapi kenapa? nggak berani? nggak enakan? hahaha, rupanya, inilah yang bikin duri itu kian betah. ternyata kita sendiri yang menumbuhsuburkannya di daging kita. membiarkannya berkembang biak, dan beranak pinak. dan kini, kita dihadapkan pada situasi ini. angkat sekarang juga, atau biarkan terus membusuk, dan tunggu saatnya mesti diamputasi.
gw menemukan satu permainan yang menarik. lebih dahsyat ketimbang orgasme, lebih complicated dibanding narsisisme, dan lebih merusak dari adiksi narkoba, serta daya serang virus HIV/AIDS. namanya: permainan mengalahkan diri sendiri. game ini memang dirancang cuma buat one player. bukan, bukan seperti shadow boxing, yang bertinju melawan bayangan. ini adalah antara kita dengan diri kita. me versus me. jujurnya sih, di akhir permainan, bakal ada semacam ketidakjelasan. siapa menang dan kalah. tapi justru di situ letak keasikannya. karena, tujuan permainan ini bukan buat mengetahui siapa juara siapa pecundang. permainan ini adalah tentang bagaimana menaklukkan diri sendiri. juga, bagaimana berdamai dengan diri sendiri. plus, bagaimana menghibur diri sendiri, bagaimana menyemangati diri sendiri, bagaimana menghukum diri sendiri, memberi penghargaan buat diri sendiri, dan semuanya yang berbau diri sendiri. nggak ada skip dan hint. juga nggak ada rumus buat cheat. semua mesti dihadapi. dan yang pasti: semua oleh diri sendiri. oke, pertanyaannya adalah bukan pada sudah sampai level berapa. tapi lebih ke apa yang udah kamu dapat di game ini. dan, apa yang bisa kamu terapkan pada kehidupanmu di dunia nyata? hmmm, segitu dulu. saya mau kembali ke game ini..
 | pernah | Feb 19, '08 2:49 AM for everyone |
gregetan banget. satu kelar, dua lain nambah. dua kelar, empat berikutnya datang. empat kelar… yeah, nggak abis-abis kalo gini terus. tapi, masak mesti kayak hanoman sih, yang menelan mangkok nasinya sekaligus, biar nggak nambah-nambah terus.. tabah, kayaknya nggak cukup buat ngatasin ini. mesti juga cerdas. tapi berikutnya, cerdas juga nggak cukup. harus cepat juga. ugh, cepat nggak cukup. perlu tepat. ini seperti kerjaan seorang konduktor. yang memastikan tiap unsur orkestra memainkan bagiannya dengan tepat. tepat waktu dan tepat porsi. konsentrasi ke detail tapi juga memerhatikan keseluruhan. mesti mengubah visi lagi? bukannya yang kayak gini udah pernah ya? hahaha, lalu, apa yang belum pernah?
| |