hagi's posts with tag: kontemplasi
 | saikel | Jun 3, '08 5:33 AM for everyone |
Tau istilah siklus kan? Siklus adalah perputaran sesuatu mengelilingi sesuatu yang lain hingga kembali ke titik semula. Bisa juga mengelilingi dirinya sendiri, hingga kembali ke arah semula. Kalo dianalogikan ke bumi, ya saat dia berevolusi terhadap matahari. Atau saat dia berotasi atas dirinya sendiri. Siklus, boleh jadi diambil dari kata cycle. Lingkaran. Roda. Berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Jika lingkaran ini dipotong secara horisontal, lalu setengah lingkaran di geser ke kanan, maka, jadilah gelombang. Satu gelombang atas dan satu gelombang bawah, disebut amplitudo. Amplitudo adalah pengukuran skalar yang nonnegatif dari besar osilasi suatu gelombang. Amplitudo juga dapat didefinisikan sebagai jarak terjauh dari garis kesetimbangan dalam gelombang sinusoide yang kita pelajari pada mata pelajaran matematika – geometrika [diambil dari wiki, twenx arien]. Seperti layaknya semua makhluk, diri kita juga mengalami siklus. Ada tiga, dari yang pernah gw pelajari. 1. siklus irama tubuh. 2. siklus irama intelektual. 3. siklus irama emosi. Ketiga siklus itu punya jarak yang berbeda. Kalo nggak salah inget, 28 hari, 30 hari, dan 33 hari [mohon dikoreksi kalo nggak tepat]. Perbedaan siklus ini yang membuat, ada kalanya kita benar-benar berada di bawah atau di atas angin. Maksudnya, kalo semua siklus itu sedang berada di kulminasi atas, tampaknya semua bakalan bagus. Tapi kebayang kan, kalo tubuh lagi gak fit, intelektual lagi parah, dan kondisi emosi lagi jelek? Itu baru dari dalem. Belum ada pengaruh dari luar. Seperti gravitasi bulan, misalnya, yang ikut menarik cairan-cairan dalam tubuh kita.. Dan masih banyak lagi.. Uhm, yang mau gw bilang adalah, kenali siklusmu. Karena dengan itu, kamu bisa memosisikan diri dengan lebih baik lagi.
 | hemat | Apr 24, '08 3:21 AM for everyone |
Menghemat, itu perlu usaha yang belum tentu mudah. Pertama, kita mesti mengubah kebiasaan. Yang tadinya tidak peduli, sekarang jadi perhatian. Yang tadinya sudah peduli, kini makin waspada. Kedua, barang-barang yang ramah lingkungan, biasanya harganya lebih mahal. Kenapa ya? Apa karena umurnya lebih panjang, jadi harganya mesti lebih mahal? Padahal, kalo lebih murah, orang pasti berbondong-bondong beli yang hemat. Ketiga, kita mesti menahan nafsu, terutama hedon dan konsumer. Kalo emang nggak ada duit, mungkin masih bisa menahan. Tapi kalo lagi ada, kan relatif repot ya.. Keempat, ini soal kasih sayang dan cinta kita ke generasi penerus. Yeah, kasian anak cucu nanti, kalo kita nggak juga sadar dan mau memelihara keberadaan lingkungan sekitar. Kelima, ini masalah pertanggungjawaban kita nanti di Hari Akhir.. Nah, mulai berhemat? Yuk, sekarang.
kemaren gw diinterview trax fm jogja. yeah, seputar pemblokiran sejumlah situs gara-gara fitna. mereka bilang, karena gw termasuk yang aktif di mp ini. [hahaha, aktif ya?] pendapat gw: teknologi selalu bisa diatasi dengan teknologi lagi. nggak bisa langsung, masih tetep bisa ditanggulangi dengan bypass proxy. cuma memang kita mesti mengubah kebiasaan aja. kalo gw sih, melihat ini dari sisi positifnya aja. buat gw yang kerja, emang sih, buka mp [menulis, membaca, dan mengomentari] sering dilakukan di jam kerja. nggak semua user berpolah seperti gw memang. tapi, buat gw, ya kalo diblok, itu artinya gw mesti lebih fokus ke pekerjaan lagi. hehe. emang, kalo ditilik lagi, pemblokiran sejumlah situs ini lebih banyak kesia-siaannya. kalo tujuannya mau memblok fitna, ya mending yang dibangun dinding mental bangsa ini. bangsa yang mentalnya volatil. mudah tersundut. cepet nyamber. karena seedan apapun isi film fitna itu, kalo kita bisa menangkal efeknya, ya nggak bakalan kebakaran jenggot juga. do’ain aja pembuatnya bisa dapet hidayah. dan nggak menyebarkan bibit permusuhan seperti itu lagi. mungkin, kalo mau diliat lagi, boleh jadi geert wilders bikin fitna karena pengetahuan dia tentang islam minim. bukan, ini bukan mau membela. melainkan, mencoba melihat dari sudut pandang lain. gw memang belum liat film itu. dan nggak berminat sama sekali. dan kalo mesti balik ke topik pembicaraan soal pemblokiran, emang tampaknya banyak agenda di belakang tindakan itu. ini bukan su’udzon, tapi mencoba menelaah dan menganalisa lagi. so, semua sudah bisa akses mp lagi kan? Alhamdulillah kalo begitu.. ayo, menulis jurnal lagi…
sudah sejak lama, gw membedakan ‘mencari’ dengan ‘menemukan’. mencari adalah kegiatan aktif, dari satu individu, yang berusaha mendapatkan apa yang diinginkan. menemukan, lebih ke kegiatan reaktif, bukan berusaha mendapat apa yang diinginkan, melainkan, merespon apa yang didapat selama berinteraksi dengan lingkungan. menemukan, bisa saja hasil dari kegiatan mencari. tapi mencari, bisa juga tak berujung pada kegiatan menemukan. kalo diterapkan di aktivitas komunikasi, - yang sering gw ibaratkan sebagai kegiatan lempar-tangkap - menemukan adalah hasil dari kegiatan menangkap. menangkap apapun yang ada di sekitar kita. apapun, dan bukan hanya yang kita mau.
sejak lama, gw menemukan kenyataan, bahwa gw senang mendengarkan. bukan, bukan mencuri dengar. tapi mendengarkan. duduk dengan konsentrasi penuh - atau tidak penuh, tapi tetap menyimak – sambil melahap huruf, kata, kalimat, dan paragraf yang keluar dari si lawan bicara. menangkap apa yang diucapkan, dan pesan yang hendak dia sampaikan. memilah yang sampiran dan mencerap yang isi. mengklasifikasi dan mengorganize, lalu menyatukannya dengan potongan-potongan puzzle yang ada di kepala. menjadikannya satu gambar besar, yang masih tetap terbuka pada banyak kemungkinan. kadang, gw terlalu banyak mendengarkan. ini bikin gw nggak seimbang. jadi, mesti sedikit nyampah juga. cuma ya gitu, mesti didaur sedikit. biar yang gw buang, bukan hal-hal yang masih utuh. karena dokumen-dokumen penting itu bisa jadi confidential isinya.. cara mendaur gw cukup unik. dan gw suka cara gw. meski ini belum tentu disukai dan mudah dimengerti orang lain. tapi ya buat apa juga? toh tujuan utama gw hanya buat menyeimbangkan informasi yang dititipkan di gw. sekarang pun begitu. gw merasa sudah cukup lama duduk diam dan mendengarkan. saatnya beraksi kembali. menuju keseimbangan..
 | N | Dec 3, '07 6:31 AM for everyone |
Netral itu bukan tidak berpihak. Sama kayak gerakan non blok, yang juga merupakan sebuah blok. Blok untuk tidak memihak blok-blok yang ada. Sama seperti tidak memilih, yang merupakan sebuah pilihan. Sama seperti diam, yang merupakan sebuah tindakan. Gw memang belakangan jarang bikin jurnal. Bukan, bukan lagi sibuk. Bukan pula karena sedang tidak punya ide. Tapi lebih sebab gw sedang berusaha mengerem komplain. Meredusir segala keluh kesah, dan mengurangi misuh-misuh.. Memang, bukan perkara gampang. Dan letupan-letupan, pasti terjadi.. Errrr, apakah ini yang menyebabkan jerawat gw muncul satu? Hahahaha.
 | apatis | Nov 30, '07 5:01 AM for everyone |
Jadi apatis itu, kadang banyak enaknya. No wonder, penganut sikap ini kian bertambah. Membunuh kepedulian. Menutup mata pada lingkungan sekitar. Dan menyibukkan diri dengan dunia yang lain. Dunia yang bisa lebih memberi kepuasan. Tapi sampe kapan bisa tahan? Bukannya apatis itu cuma jadi jalan alternatif aja? Lalu, jalan lainnya apa dong?
 | semusim | Nov 1, '07 12:08 AM for everyone |
Minggu, 4 Nov ini, ada banyak teman yang kawin. Yeah, menikah, sama aja. Nanti toh kawin juga. Gw nerima tiga undangan. Semua jam 19-22. Jarak lokasi tiga acara itu nggak dekat. Jadi, nggak mungkin bisa terkunjungi semuanya. Ya, sudah lah, itu masalah gw. Tapi, apakah ini sudah masuk musim kawin? Ah, kalo liat dari bulannya sih, iya. Juga liat dari musim ujannya ya. Hahaha. Ya deh, selamat aja ya. Buat yang udah nikah, bentar lagi mau nikah, kepengin dan kebelet banget menikah, berniat menikah lagi.. Juga buat yang memutuskan buat nggak nikah, yang muak dengan lembaga pernikahan.. Juga buat yang kerjaannya menikahkan orang, jadi wali nikah, hobi diundang ke pernikahan.. Selamat menikah.
sering, otak dan hati ini mesti ditindas. mereka mesti dipepet, digilas, disudutkan keadaan, baru deh, mereka bisa menghasilkan output yang kreatif.. tapi apa mesti selalu begitu? sebab seringnya sih, begitu last minute, kita beroleh ide yang brilian. padahal, kalo keluarnya udah dari jauh hari, kan bisa punya persiapan lebih banyak? atau, memang polanya seperti itu? si otak dan si hati memang punya waktu sendiri buat mengolah masalah. dan kemudian, melahirkan bayi kreatif tepat pada waktunya? ah, buntu.
 | debu | Sep 4, '07 3:11 AM for everyone |
Masih di tengah beberes, Sudah agak mendingan sih. Barang-barangnya sudah makin terklasifikasi. Debu-debunya sebagian sudah hilang, tersapu, terseka, Dan terhirup paru-paru.. Ada beberapa harta karun yang gw temukan. Perintilan nggak penting yang punya sejarah panjang. Dokumen-dokumen berharga yang dulu dianggap lenyap karena salah simpan.. Well, ini bukan perkara sampah yang menggunung. Bukan pula debu yang beterbangan. Ini soal memori. Dan gw kembali masuk ke lorong waktu ini..
 | ngaco | Aug 13, '07 11:31 PM for everyone |
semua masalah mesti diselesaikan satu-satu. mesti dihadapi satu-satu, dan dilahap satu-satu. tapi kadang gw nggak percaya itu. penginnya, semua bisa dilakukan berbarengan. jadi, beberapa tugas bisa dikerjakan sekali waktu. dan nanti, gw tinggal memetik hasil-hasilnya. tapi gw sering lupa. semangat gw ada masanya. energi gw ada ambangnya. dan mood gw ada siklusnya. perlu effort yang lebih buat itu, jelas bener. dan kerja keras selalu menuntut istirahat yang banyak juga. plus entertainment yang besar, hehehe. masalahnya, apakah semua itu sebanding dengan yang didapatkan? wah, gw masih belum bisa menilai itu. yang jelas, ada beberapa check point yang udah gw lewati dengan cepat. dan gw cukup menikmati akselerasi ini. kata orang sih, semakin kenceng motor kita geber, semakin deket juga kita ke garis finish kematian kita. well, mungkin ada benernya juga. tapi jika dilakukan dengan kesiagaan penuh, dan kewaspadaan yang tinggi, rasanya nggak berlebihan kalo kita berharap bisa selamat di jalan. pertanyaan gw: perlukah semua itu?
 | AQ | Jul 30, '07 10:30 PM for everyone |
mereka bilang, nggak peduli berapa tinggi tingkat kecerdasan intelektual elo. juga nggak peduli seberapa tinggi kecerdasan emosional elo. tapi yang banyak menyelamatkan adalah seberapa tahan kita didera masalah. jadi, IQ [intellectual quotient] dan EQ [emotional quotient] bukanlah salah dua faktor penentu nasib seseorang. AQ [adversity quotient]-lah yang menjelaskan mengapa orang yang tingkat IQ dan EQ-nya lebih rendah relatif bisa survive dan bertahan hidup. nggak dijelaskan, mereka meletakkan SQ [spiritual quotient] di wilayah mana.
gw agak sedih dengan produktivitas gw. dalam bekerja, juga berkarya. terbilang rendah, kuantitas dan kualitasnya. jujurnya sih, gw merasa ada beberapa ganjelan buat itu. ya, ini memang justifikasi, tapi memang demikian adanya. mood yang terganggu otomatis menghambat produktivitas. penginnya sih nggak gitu. tapi beberapa teman dan kerabat bilang, gw ini bermental seniman. acap meletakkan beban tanggungjawab produktivitas pada mood. yang kayak gini nggak boleh didiemin. mesti diubah, diperbaiki, dikoreksi. caranya? well, tampaknya, gw mesti dealing sama mood gw. gw mesti ketemu, ajak dia bicara, mewawancarainya. bikin dia mau cerita apa yang bisa bikin dia terjaga dengan baik. lalu, kalo semua sudah tersedia dengan baik dan benar, masihkah gw punya pembenaran buat nggak produktif lagi?
setiap hari, kerap ada kebiasaan yang mesti diubah. bukan selalu berarti harus diganti, tapi bisa juga cuma diperbaiki. atau ditingatkan. misalnya soal kerajinan, atau disiplin, dll yang konotasinya biasanya baik. sementara soal kemalasan, atau sembrono, dan konco-konconya yang negatif, mestinya sih dikikis habis dan diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. tapi baik-buruk dan positif-negatif kan relatif. banyak orang seneng dengan hal-hal tertentu. dan terlalu malas buat mengganti atau mengubahnya. yang juga menyediakan banyak pembenaran buat itu. masuk di comfort zone? nggak salah dan haram sih. tapi, ketika itu udah nggak relevan lagi buat terus survive, ya pilihannya cuma keluar. atau, menunggu mati terkubur di kerangkeng kita sendiri.
 | dealing | Jun 14, '07 2:40 AM for everyone |
kalo lagi kayak gini, kemampuan menulis gw menurun. begitu juga hasrat buat memulai. padahal, di sekeliling, ada banyak yang bisa jadi bahan tulisan. uhm, sebenernya, nggak ada juga yang mengharuskan gw buat menulis terus. ini cuma kepenginan mengasah kebisaan aja, biar ndak tumpul. tapi memang belum pas waktu tampaknya. ya, ndak papa deh. tunggu aja. kegalauan memang sedang nggak sedahsyat beberapa waktu lalu. di beberapa moment, gw juga merasakan banyak bahagia. kadang, ada haru juga menyesaki dada. yang jelas, ndak ada yang ngalahin kebersyukuran yang gw rasakan.. sulitnya, bagaimana cara menyikapi ide-ide yang selalu berloncatan di kepala ini? hmmm..
 | 10 DD | May 30, '07 1:24 AM for everyone |
DASA DHARMA PRAMUKA Pramuka itu: 1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Cinta Alam dan kasih sayang kepada sesama manusia 3. Patuh dan suka bermusyawarah 4. Patriot yang sopan dan ksatria 5. Rela menolong dan tabah 6. Rajin, trampil dan gembira 7. Hemat, cermat dan bersahaja 8. Disiplin, berani, dan setia 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan entah, tampaknya gw mesti mengulang kembali semuanya. menghapal, dan mengamalkannya satu per satu.. ugh, ke mana seragam pramuka gw ya?
kerja di media, sering mensyaratkan kondisi jantung yang sehat dan kuat. yeah, bukan cuma di media sih, tapi teuteup, jantung yang sehat dan kuat itu bakal sangat mendukung, saat elo didera lecutan cambuk deadline, dan mesti tetap survive di saat sport jantung.. tapi, selain jantung, ternyata juga butuh otak yang jernih. dan kepala yang dingin. hiiiiiihihihihihihihihihihi...
ini sekuel dari jurnal gw yang driver dan suster. pagi ini, secara mengejutkan, gw kembali ketemu mobil trajet hitam itu. gw inget banget. inget banget. plat nomornya, merek mobilnya yang hilang beberapa huruf, juga penumpangnya. dan mobil gw, tepat di belakang trajet itu. uniknya, penumpangnya tambah satu. perempuan dewasa. kali ini formasinya: si driver duduk di belakang kemudi. di sebelahnya, ada satu perempuan dewasa [yang setelah beberapa kali manuver, gw bisa liat, dialah si suster or nanny yang kemaren]. satu anak kecil duduk di belakang. dia terlihat beberapa kali jungkir balik. satu lagi duduk dengan agak tenang, sambil sesekali berdiri, di jok tengah, bersama satu perempuan dewasa lain. agak susah buat meliat dia lebih jelas dari posisi gw. tapi begitu dia pegang hp dan menelepon, gw langsung memprediksi bahwa dia ibu dua anak itu. kali ini, nggak ada suapan-suapan seperti kemaren. mungkin anak-anak itu udah pada sarapan di rumah. atau bawa bekal. dunno. akhirnya, begitu kondisi jalanan memungkinkan, gw menyalip mobil itu. sekilas tampaklah wajah si ibu. muda. cantik. yeah, seumuran dan semodel maia estianty or mieke amalia gitu deh. dan abis itu, mobil gw langsung melesat meninggalkan trajet hitam itu. hahaha, yaaa, boleh jadi si ibu muda nan cantik itu mereka baca jurnal gw sebelumnya. dan dia merasa mesti membuktikan ke gw bahwa dia juga punya kegiatan rutin mengantar anaknya ke sekolah. dan yeah, tentu bersama dua pengawal setianya: si driver dan si suster.
tadi pagi, dalam perjalanan ke kantor, gw melihat satu mobil hyundai trajet hitam, berpenumpang empat orang. dua dewasa, dua anak-anak. satu dari orang dewasa itu pria, duduk di belakang kemudi. perawakan dan gesturenya menunjukkan dia driver. supir, maksud gw. seseorang yang dipekerjakan khusus untuk menyetir mobil. sementara satunya lagi, duduk di belakang, berpakaian putih, cewek, dan sedang menyuapi satu anak kecil berseragam sekolah yang juga duduk di belakang. dugaan gw, dia ini babysitter/suster. maksud gw, seseorang yang dipekerjakan khusus buat jadi asisten anak kecil. merawat, menjaga, dan memenuhi keperluan dan kebutuhan majikannya. anak kecil satunya, juga berseragam sekolah, duduk di depan. sedang asyik membaca buku, atau mendengarkan musik. prediksi sementara, mereka ini driver dan suster yang ditugaskan majikan mereka buat mengantar dua anak itu ke sekolah. mungkin, bapak-ibu mereka sedang sibuk, jadi nggak bisa nganter darah daging mereka sendiri ke sekolah. ugh. tapi, apa jadinya dengan anak-anak si driver dan si suster? mereka juga punya kemungkinan yang sama: nggak dianter bapak-ibunya ke sekolah. atau, bapak dan ibu kedua anak di mobil itu juga sama nasibnya dengan si driver dan suster: mereka sibuk mengemudikan mobil bos mereka, dan sibuk menyuapi anak bos mereka. pekerjaan, kesibukan, serta matapencaharian yang mereka lakukan buat bisa membiayai anak mereka sekolah dan punya driver dan suster sendiri? hahaha, pikiran yang cukup konyol buat menemani perjalanan ke kantor.
tadi petang gw nonton audisi kampus extravaganza trans tv.
parah. dan capek banget. padahal cuma nonton aja.
yeah, ini potret bangsa kita. potret manusia pada umumnya juga.
bahwa mereka butuh sekali mencapai ketenaran.
dan rela melakukan apa saja buat itu.
juga termasuk mempermalukan diri sendiri.
parah. tragis. trenyuh.
tapi nggak tau ya.
mungkin ada sisi lain yang gw nggak tau.
dan gw nggak pantes buat mendakwa apa-apa di sini.
yeah, gitu deh..
| |