tadi malem, setelah denyut dan lak bobo,
gw dan yeni bicara-bicara..
pembicaraan yang dulu kerap kami lakukan,
saat kemping atau sedang berada di alam bebas..
seneng, karena udah lama nggak ngobrol seperti itu.
lalu obrolan berganti topik.
seperti yang sudah-sudah, kami membahas, apa yang mesti dilakukan,
kalo salah satu di antara kami duluan meninggal dunia..
antara pulang ke bandung, menikah lagi, atau, terus melajang..
juga, bagaimana merawat dan membesarkan denyut dan lak..
pembicaraan itu obrolan yang lepas.
yang kami tau, jika saatnya tiba nanti,
pasti tak akan semudah membicarakannya sekarang..
yeah, masing-masing kita memang tidak sepenuhnya memiliki.
gw bukan milik yeni, pun yeni bukan milik gw.
begitu juga dengan denyut dan lak, vice versa.
jika waktunya datang, kita harus ikhlas melepas kepergian siapapun..
mungkin gw duluan, atau dia duluan, atau denyut, atau lak duluan..
mungkin gw tinggal sendiri, atau yeni, atau denyut, atau lak yang tinggal sendiri..
tapi hari itu pasti datang..
bicara soal rela melepas,
gw lalu bertanya pada yeni,
“lebih berat mana, ditinggal mati pasangan hidup/orang yang dicintai,
atau kehilangan anggota tubuh [misalnya tangan, kaki, pengelihatan, dsb]?”
kami punya jawaban tentang itu.
tapi, bolehkah kalian ikut menjawabnya juga?
lebih berat mana?